RIJAL AKBAR HASYIM

DALAM PENGEMBARAAN MENGAIS CERITA MENYIMPAN BERITA

02 September 2010

Cinta adalah Anugerah


Widgeo
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Diposting oleh Suara Indrakila di 2.9.10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Dunia Kita

Awaludin Chamid

Buat Lencana Anda

Label

  • Arah Kiblat (1)
  • Cak Hikam mengenang GUS DUR (1)
  • Dunia Sufi (8)
  • Hikayat (1)
  • Kisah Nyata (1)
  • Link (1)
  • Pemimpin menurut Islam (1)
  • Pengembaraan Jiwa (1)
  • Rahasia (1)
  • Wajah-wajah Bangkit (1)
  • Zikir (1)

Pengembaraan Jiwa

Wisata Hati

Bertanyalah pada hatimu, disitulah engkau akan menemukan jawaban

Daftar Link

  • Widgeo
  • Batik
  • Sufi
  • Pemilu Okezone
  • PKNU
  • Ansor Jatim
  • Ansor
  • NU
  • Lagu Arab
  • Master hipnotis.net
  • Syiar Islam
  • Kapanlagi
  • Pemilu
  • Metro TV
  • Antara

Jejak Petualang

SELAMAT DATANG WAHAI SAHABAT

ASSALAMU'ALAIKUM WR.WB

Mengenai Saya

Foto saya
Suara Indrakila
Aku ada karena keberadaanNya,aku menikah dengan seorang putri Lampung, Lilik Halimah namanya, saat ini kami dikaruniai dua anak : 1. Rijal Akbar Hasyim ( Akbar ) 2. Almira Tazkiya Nahdliya Aulia ( Kia )
Lihat profil lengkapku

Istri dan Dua Buah Hatiku

Istri dan Dua Buah Hatiku
Orang-orang Terkasih

Ananda

Ananda
Sang Arjunaku

wAY kAMBaS

wAY kAMBaS
GajaH

Pencarian Kalbu

  • Wajah Kita

Belahan Hati

Belahan Hati
Nandaku

Cari Blog Ini

PeR..Ja..La..NaN


widgets

Cinta Mengalir

Keterlelapan alam insan
Suratan kehidupan tergaris tegak
Rangkaian kehidupan ketakadilan
Sampah negeri kepentinan lipstik fenomenal
Kebangkitan mati anak negeri
Harapan tangis ratapan duka
Ramadhan pembekalan sosial

Suara Ilahi mengalir dasyat
Kumandangkan insan atas dekapan
Untaian embun sucikan jiwa
Kembali menyatu dengan-Nya
Manusia alam berseru
Untaian tugas suci
Semaikan tugas suci
Semaikan kasih
Petikkan cinta untuk sesema

Panggilan Ilahi berkumandang
Nada-nada sayup bergulir di udara
Hamba sadar tuangkan rasa
Cinta disambut oleh-Nya
Damai tenang indah bersama
Rasa milik semua!
Turunlah kabarkan gembira untuk semua
Akhir bahagia selamanya

Sendiri …
Ungkapan kata mengalir tenang
Rasa tertuang dalam dekapan
Cinta bertahta di hati
Keinginan berseru di jiwa
Sentuhan embun sucikan hati
Raih dekapan pelukan Pencipta
Bersihkan qolb langkah bersama hawa

Pagi senyum surya berseri
Tuangkan rasa cinta
Damaikan alam dunia
Ketenangan, kebahagian, keabadian insan
Bersama dengan-Nya
Bercengkrama bercanda berbagi rasa
Turun terbarkan sayang
Satukan manusia dengan ikatan suci

Rasa …
Satukan keinginan
Gejolak kangen di qolb
Tertentang dalam rintihan Pencipta
Dekapan mata jauh
Terselipkan kata sayang
Hanya tetesan mata mengalir
Rasa kapan bersama berbagi
Harapan empedu cinta
Satukan rasa cinta

Teman kesusahan berbagi
Takaran canda bersama
Kesenangan milik semua
Tuntutan dalam alam fana
Gemerlapan tahta intan permata
Keterlelapan manusia
Rangkaian tukarkan dunia idea
Pecundangkan insan ketabrakan
Kepentingan hanya sesaat

Kesunyian malam berteman lantunan nada
Ingatkan sebuah cerita
Insan berproses alam dunia
Karya manusia manifestasi Pencipta
Tebarkan gembira sesama
Lompatan quantum kegembiraan
Bangun!
Kasih insan karena Tuhan

Tetesan embun pagi
Dingin mengalir udara menari
Surya pancarakan sinar harapan
Tangisan pertiwi anak negeri
Kekalahan ku sebuah derita
Bangsa hilang manusia bersemi
Sambut pagi ceria harapan
Proses ingatkan-Nya

Kesendirian bertemankan alam
Dosa adat insan terpatri
Laku sikap sifat dalam tangisan
Untaian embun di siang hari
Keterlelapan lembah hitam
Sentuhan-Nya tenangkan jiwa
Sesaat atau selamanya di dekapan
Rasa diri jatuh

Kelaianan diri dekapan bersama
Idealitas pragmatis tujuan kepentingan mulia menafikan dosa
Kebenaran dalam kesalahan
Kejujuran sikap politik
Muka topeng manusia drama dunia
Ketenangan kesucian kebahagiaan
Dambaan sesaat

Senja bergulir surya tenggelam
Cakupan malam melintas
Nyanyian silih berganti
Bulan bertahta di kawal bintang
Ingatkan senyum nan muka sang hawa
Bagi rasa cinta bersemi
Ikatan suci kan didamba
Menyatu dengan-Nya

Teriknya surya
Keangkuhan adam
Gempitanya alam dunia
Senang alam fana
Langkah insan nafas tertatih
Kelelahan pencarian diri tercebur dosa
Langkah gontai mendamba bahagia
Sentuhan hawa berbagai dekapan Ilahi

Kegaulan hati ingatkan coba
Datangnya wajah dari tragedi
Seruan paruh terdengar sayup
Semangat terpendam hilang ditelan badai
Relungan jiwa sebuah derita
Sentuhan, dekapan, pelukan ribuan bayang hadirkan sukma

Lamunan terbangkan khayalan
Ungkapan kedamaian alam
Bah insan mengkasihi semua
Rasa kangen terselip dekapan sentuhan harapan
Keegoan tanggalkan cinta suci
Cita terbentang blantara
Sentuhan bersama kikisan luka hawa

Kedaimaan insan fana
Sentuhan Ilahi dekapan jiwa
Tuangkan rasa manusia
Rintihan kumandangkan nada
Saat ruh berlari pada-Nya
Tenang berimpikan transenden
Terbarkan asma bagi alam, insan
Ciptakan surga dunia

Tertuang dalam lantunan
Sirna cinta mengalir cercahan sinar kedaian
Dekapan pelukan Ilahi sentuhan qolb
Embun jernihkan pikiran
Lambaian tangan dekapan hilangan bayangan
Sirna jiwa kenangan sekedar impian

Mentari terkadang tak adil
Hanya memberi cahaya kepada tempat yang ia suka
Biarkan ia bertindak sesuakanya
Hidup adalah pilihan
Izinkan aku untuk memilih
Aku harus kembali kesejatinya aku

Pagi …
Sinar mentari berteman awan
Cahaya termbus cakrawala
Hilangkan embun pagi
Sadarkan insan hadapi keras kehidupan
Teman berbagi hilang dari ingatn
Senyuman hadapkan luntur tuntutan
Manusia dalam pilihan membosankan

Keramaian tengah hutan blantara
Kesayupan, kesepian metropolitan
Keterjatuhan dalam gemerlapan
Sanksi sadarkan alam nyata
Tangisan nyata terdengar manusia
Kegembiraan untuk kelompok tertentu
Kesakitan untuk semua
Sadarkan

Sakit merasuk relung terdalam
Inginku pergi tinggalkan beban
Rasa menghantui seperti bayang diri
Sakit tinggallah jernihkan hati menggapai
Sucikan diri bersama mu
Gabungkan rasa syukur sebagi abdi untuk-Nya

Bangun ketika sadar keterlelapan
Layananan untuk semua karena-Nya
Ikhlas serahkan putusan oleh nya
Hanya kesadaran di damba
Kesepakatan insan komitmen bersama
Pantrian janji gempita fana
Tuangkan penawar empedu cinta

Malam …
Keterlelepan dunia
Dewi ingatkan cinta alam fana
Semaikan kasih tebaran kangen
Terbayang sikap nan laku bersama
Untaian permata senyum menawan
Dentungan jiwa tuk tinggalkan
Khan menyatu bersama pada-Nya dalam damai

Slimut embun pagi
Dinginkan hati sejukan jiwa
Tancapkan ruh Ilahi terpancar gemerlapan
Lamunan dunia damaikan cinta
Berikan untuk sesama dalam gerak setiap langkah
Ciptakan surga dunia

Syahrun ramadhan
Derita luka balutan asmara
Ilahi sadarkan diri
Sucikan jiwa tebarkan pesona
Raih malam seribu bulan
Semai cinta untuk sesama
Hilangkan luka bangsa
Ciptakan surga di dunia

Gumpalan awan penantian manusia
Sikap insan menanti segala cara
Gumpalan menjadikan bencanda
Teriakan penyesalan keterbelakangan
Sikap khan terpenuhi nafsu
Eksploitasi serakah kapital
Masyarakat derita sengsara
Hanya duka tangisan pertiwi

Sore …
Semilir angin mengusik jiwa
Gejolak kenangan bakar diri bersama
Untai senang berbagi
Bisikan hati abadaikan kenangan
Masa depan menanti
Jiwa berlari tinggalkan menjemput impian
Mari tinggalkan

Lebaran sucikan jiwa
Hadap syukur pada Pencipta
Tenangkan langkah tatap masa depan
Satukan asmara dalam hati
Ikatan suci insan berbeda
Buka pentu rahmat Ilahi
Perpaduan cinta
Bahagia bersama untuk-Nya

Warna kuning langit
Mengingatkan kenangan insan
Ketenangan, kebahagiaan, pengertian tanggung jawab
Cinta impikan bersama
Lamunan angan tebarkan kasih bersama
Berganti hilang teman berbagi
Eksistensi cinta manusia dalam kehidupan

Harapan kejaran impian
Diwam lantunan ilahi
Sempurnakan insan untuk sesama dan alam
Tuangkan anggur cinta
Hapus sifat binatang
Raih damai
Tenang indah gerak bersama
Tercipta surga dunia
Hamparan nikmat
Saat perjalanan jauh
Telah sampailah waktu mu
Lelah dan letih dalam bahtera dunia
Hadapkan muka mu pada-Illah mu
Terbang ke awang-uwung dunia lembayung
Ingatkan pada insan
Suatu kisah perjalanan

Galeri taungkan rasa
Hamaparan samudra terkikis karang
Tegak diterjang ombak kejamnya kehidupan
Kabahagiaan, ketenangan fatamorgana
Lontar tertera kisah
Binatang menghiasi muka dunia
Turunan malaikat muka bumi

Kegelisahan ketika dosa di depan mata
Diam membisu kemana pergi
Lantunan nada kumandangkan isakan mata
Hati berbicara lantunan tangis
Simpuhan Ilahi ketukan jiwa
Berbagi insan derita dosa bersama
Satukan ikatan cinta suci

Suara Ilahi mengalir
Dasyat kumandangkan insan dalam dekapan
Untaian embun sucikan jiwa
Kembali menyatu dengan-Nya
Manusia alam berseru
Untaian tugas suci
Semaikan kasih
Petikan cinta untuk sesama

Kesunyian malam bertemankan lantunan nada
Ingatkan sebuah cerita
Insan berproses alam dunia
Karya manusia manifestasi Pencipta
Tebarkan gembira sesama
Lompatan quantum kegembiraan
Bangun kasih dan sayang karna Tuhan

Gemerlap bintang hantarkan kedamaian
Sinar cerahkan harapan
Jiwa teriak kesunyian kelam
Rasa tak kan pergi meliputi diri
Kemana bayangan kian menghimpit kehidupan
Hanya penawar hawa tenangkan kehidupan

Ketika hujan turun membasahi bumi
Pohon-pohonpun haus akan kesejukan dan ketenangan
Lembutnya awan tak selembut salju
Kemanakah gerangan…
Rasa satukan jiwa tuk hadirkan kedamaian

Mungkin kau biarkan aku mengumbar kebencian
Dibalik kacamata kehidupan
Kiranya…..
Aku terpuruk diantara kaki-kaki
Ruang dan kepala terbalik waktu
Seyum-seyum berserakan di hadapan
Berlahan bersembunyi di balik dedauanan

Tetesan embun pagi
Dingin mengalir udara manari
Surya pancarkan sinar harapan
Tangisan pertiwi anak negeri
Kekalahanku sebuah derita
Bangsa hilang manusia bersemi
Sambut pagi ceria harapan
Proses ingatkan-Nya

Kelainan diri dekapan bersama
Idealitas pragmatis tujuan kepentingan mulia
Menafikan dosa
Kebanaran dalam kesalahan
Kejujuran sikap politik
Muka topeng manusia drama dunia
Ketenangan kesucian kebahagian damba sesa

Senja bergulir surya tenggelam
Cakupan malam melintas
Nyanyian silih berganti
Bulan bertahta dikawal bintang
Ingatkan senyun nan muka hawa
Berbagi rasa cinta bersama
Ikatan suci kan damba
Menyatu dengan-Nya

II
Gemerlap malam bertemankan langit kuning
Cahaya lampu menyinari dengan remang
Raih cita tinggalkan cinta
Manusia dalam pilihan menjenuhkan
Senyuman sentuhan dekapan angan
Tetesan empedu kehidupan impian
Gaung besama derita

Keterlelapan mimpi
Alam ketenangan kebahagiaan kedamaian
Jalinan kasih sesama
Hamparan fikiran tindakan transenden
Sambut ceria esok
Dataran langit pancarkan sinar kesucian
Sambut bumi penuh cinta
Gerak langkah cinta
Sadar dan bangunlah

Lantunan angin gerakan angan impian
Rintihan kedamaian insan pecinta
Kebahagian segala untuk mencinta
Tumpuhan pilihan pada di cinta
Ratapan pepenta untuk Pencipta
Tebaran cinta kesadaran gerak insan kesempurnaan


Siang disini masih mendung
Mungkin suasana purba untuk diungkapkan
Terasa waktu begitu cepat
Berlalu …
Aku harus kembali kesejatinya aku
Kembali kealam sadarku
Kembali keadaanku sekarang ini
Aku harus terbang sekarang,
Biarlah
Aku tinggalkan bayanganku di sana
Dan di sini atau mungkin di susatu
Tempat yang entah kapan aku akan singgahi …
Yang pasti kenangan terpahat dalam jiwa dan hati ku
Tak akan aku lupakan

Bintang jauh …
Tetaplah dalam kisaranmu
Sampai ujung lintasmu, dengarlah …
Bungkusan mimpi padamu bicara
Tentang mimpi dan kejujuran
Tentang ucapan, mimpi dan hidup
Hidup ini adalah tentang bagaimana perasaanku
Pada diriku sendiri
tentang bagaimana aku menghargai tetang orang yang aku sukai …
hidup ini memang tentang menghargai
mahluk Tuhan apa adanya dan bukan
tentang apa yang dimilikinya
hidup ini tentang memutuskan untuk menggunakan mimpiku ….
Untuk menyentuh mimpi orang lain

Senja ungkapkan makna
Berlari hanya tinggal di tempat
Langkah gontai di tempat yang sama
Rol of love di telan pahitnya dunia
Kefanaan damba manusia
Nista penantian insan
Jemu bius kelalaian
Lumpur dosa da;am diri-nya

Lantunan angin mengusik jiwa
Dentungan nada ingatkan pesan sesama
Hidup pilihan dan harus memimih
Insan terendam dalam lumpur dosa
Pasrah Illahi hilangkan hina
Damba bersama menyatu pada-Nya

Dambaan seluruh insan
Makna hilang di jalan
Serakah kepentingan dunia sesaat
Gumpalan nafsu gerak langkah dunia
Sucikan hati dalam bulan suci
Satukan jiwa dalam anggur cinta Illahi
Cipta nirwana dunia untuk sesama

Batang usia meninggi
Luapan emosi tersusun rapih
Hiasan qolb tenangkan jiwa
Hadap muka syukur pada Pencipta
Hantarkan jiwa untuk-Nya
Bakti suami langkah bersama
Luapan kasih mabuk iman pada-Nya
Endapan permata alam
Kaki-kaki bukit surga
Alam tercipta ungkapkan makna
Yoga penawar sifat serakah
Ungkapkan warna kedamaian
Lantunan udara menyanyi gembira
Ingatkan mimpi-mimpi
Aktualisasikan rasa untuk semua
Akhir hayat terungkap kata
Luapan menyatu pada-Nya
Fikiran tercipta untuk-Nya
Imajinasi hanya alam-Nya
Gaungan nada-nada
Hantarkan tugas mulia
Alunan gelombang bangkitkan rasa
Nirwana tertebar di dunia
Intuisi cinta pada sang hawa

Sucikan hati dan jiwa
Sambutlah bulan ramadhan dengan cinta
Cipta surga dalam dunia
Damai, indah, adil, dalam naungan Illahi
Puasakan hati, akal, indra untuk Illahi
Dalam dekapan cinta sesame dan alam

Gema takbir getarkan hati
Pintu jiwa ungkapkan rasa
Dosa mengalir deras
Buka hati maafkan sesama dalam dekapan cinta
Perwujudan cinta pada sang Pencinta
Menggapai Rida-Nya.


Pemutus Segala Kenikmatan

Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Amma Ba`du Jika seseorang rajin mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian, ia menyatu dengan akhirat, lalu segera beramal sebelum kematian menjemputnya. Sesungguhnya kematian adalah haq, pasti terjadi, tidak dapat disangkal lagi. Allah Subhanahu wata'ala berfirman, artinya, "Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya." (QS. Qaaf:19) Adakah orang yang mendebat kematian dan sakaratul maut? Adakah orang yang mendebat kubur dan azabnya? Adakah orang yang mampu menunda kematiannya dari waktu yang telah ditentukan? Mengapa manusia takabur padahal kelak akan dimakan ulat? Mengapa manusia melampaui batas padahal di dalam tanah kelak akan terbujur? Mengapa berandai-andai, padahal anda mengetahui kematian akan datang secara tiba-tiba? Hakikat Kematian Adalah salah bila ada orang yang mengira bahwa kematian itu hanya ke-fana-an semata dan ketidak-adaan secara total yang tidak ada kehidupan, perhitungan, hari dikumpulkan, kebangkitan, surga atau neraka padanya!! Sebab andaikata demikian, tentulah tidak ada hikmah dari penciptaan dan wujud kita. Tentulah manusia semua sama saja setelah kematian dan dapat beristirahat lega; mukmin dan kafir sama, pembunuh dan terbunuh sama, si penzhalim dan yang terzhalimi sama, pelaku keta'atan dan maksiat sama, penzina dan si rajin shalat sama, pelaku perbuatan keji dan ahli takwa sama. Pandangan tersebut hanyalah bersumber dari pemahaman kaum atheis yang mereka itu lebih buruk dari binatang sekali pun. Yang mengatakan seperti ini hanyalah orang yang telah tidak punya rasa malu dan menggelari dirinya sebagai orang yang bodoh dan 'gila.' (Baca: QS. At-Taghabun:7, QS. Yaasiin: 78-79) Kematian adalah terputusnya hubungan ruh dengan badan, kemudian ruh berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan seluruh lembaran amal ditutup, pintu taubat dan pemberian tempo pun terputus. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat." (HR. At-Turmu-dzi dan Ibn Majah, dishahihkan Al-Hakim dan Ibn Hibban) Kematian Merupakan Musibah Paling Besar!! Kematian merupakan musibah paling besar, karena itu Allah subhanahu wata'ala menamakannya dengan 'musibah maut' (Al-Maidah:106). Bila seorang hamba ahli keta'atan didatangi maut, ia menyesal mengapa tidak menambah amalan shalihnya, sedangkan bila seorang hamba ahli maksiat didatangi maut, ia menyesali atas perbuatan melampaui batas yang dilakukannya dan berkeinginan dapat dikembalikan ke dunia lagi, sehingga dapat bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala dan memulai amal shalih. Namun! Itu semua adalah mustahil dan tidak akan terjadi!! (Baca: QS. Fushshilat: 24, QS. Al-Mu'minun: 99-100) Ingatlah Penghancur Segala Kenikmatan!! Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menganjurkan agar banyak mengingat kematian. Beliau bersabda, "Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (maut)," (HR. At-Tirmidzi, hasan menurutnya). Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, "Para ulama kita mengatakan, ucapan beliau, "Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan", merupakan ucapan ringkas tapi padat, menghimpun makna peringatan dan amat mendalam penyampaian wejangannya. Sebab, orang yang benar-benar mengingat kematian, pasti akan mengurangi kenikmatan yang dirasakannya saat itu, mencegahnya untuk bercita-cita mendapatkannya di masa yang akan datang serta membuatnya menghindar dari mengangankannya, sekalipun hal itu masih memungkinkannya. Namun jiwa yang beku dan hati yang lalai selalu memerlukan wejangan yang lebih lama dari para penyuluh dan untaian kata-kata yang meluluhkan sebab bila tidak, sebenarnya ucapan beliau tersebut dan firman Allah subhanahu wata'ala dalam surat Ali 'Imran ayat 185, (artinya, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati) sudah cukup bagi pendengar dan pemerhati-nya.!!" Siapa Orang Yang Paling Cerdik? Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma pernah berkata, "Aku pernah menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, "Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?" Beliau menjawab, "(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat." (HR. Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri) Faedah Mengingat Kematian Di antara faedah mengingat kematian adalah: - Mendorong diri untuk bersiap-siap menghadapi kematian sebelum datangnya. - Memperpendek angan-angan untuk berlama-lama tinggal di dunia yang fana ini, karena panjang angan-angan merupakan sebab paling besar lahirnya kelalaian. - Menjauhkan diri dari cinta dunia dan rela dengan yang sedikit. - Menyugesti keinginan pada akhirat dan mengajak untuk berbuat ta'at. - Meringankan seorang hamba dalam menghadapi cobaan dunia. - Mencegah kerakusan dan ketamak-an terhadap kenikmatan duniawi. - Mendorong untuk bertaubat dan mengevaluasi kesalahan masa lalu. - Melunakkan hati, membuat mata menangis, memotivasi keinginan mempelajari agama dan mengusir keinginan hawa nafsu. - Mengajak bersikap rendah hati (tawadhu'), tidak sombong, dan berlaku zhalim. - Mendorong sikap toleransi, me-ma'afkan teman dan menerima alasan orang lain. Perkataan Orang-Orang Bijak 1. Al-Qurthubi rahimahullah berkata, "Umat sepakat bahwa kematian tidak memiliki usia tertentu, masa tertentu dan penyakit tertentu. Hal ini dimaksudkan agar seseorang senantiasa waspada dan bersiap-siap menghadapinya." 2. Yazid Ar-Raqqasyi rahimahullah berkata kepada dirinya, "Celakalah engkau wahai Yazid! Siapa orang yang akan menggantikan shalatmu setelah mati? Siapa yang berpuasa untukmu setelah mati? Siapa yang memohon ridha Allah untukmu setelah mati? Wahai manusia! Tidakkah kamu menangis dan meratapi diri sendiri dalam sisa hidup kamu? Siapa yang dicari maut, kuburan jadi rumahnya, tanah jadi kasurnya dan ulat jadi teman dekatnya, lalu setelah itu ia akan menunggu lagi hari kecemasan yang paling besar; bagaimana kondisi orang yang seperti ini nanti.?" Beliau (Yazid-red) pun kemudian menangis. 3. Ad-Daqqaq rahimahullah berkata, "Siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan dimuliakan dengan tiga hal: Segera bertaubat; Mendapatkan kepuasan hati; dan bersemangat dalam beribadah. Dan siapa yang lupa akan kematian, maka ia akan disiksa dengan tiga hal: Menunda untuk bertaubat; Tidak merasa cukup dengan yang ada dan malas beribadah." 4. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Sesungguhnya kematian ini telah merusak kenikmatan yang dirasakan para penikmatnya. Karena itu, carilah kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya." Faktor-Faktor Pendorong Mengingat Kematian 1. Ziarah kubur. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Berziarah kuburlah kamu, sebab ia dapat mengingatkanmu akan akhirat." (HR. Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al-Albani) 2. Melihat mayat ketika dimandikan. 3. Menyaksikan orang-orang yang tengah sekarat dan menalqinkan mereka dengan kalimat syahadat. 4. Mengiringi jenazah, shalat atasnya serta menghadiri penguburannya. 5. Membaca Al-Qur'an, terutama ayat-ayat yang mengingatkan akan kematian dan sakratul maut seperti ayat 19 surat Qaaf. 6. Uban dan Penyakit. Kedua hal ini merupakan utusan malaikat maut kepada para hamba. 7. Fenomena alam yang dijadikan Allah Subhanahu wata'ala untuk mengingatkan para hamba akan kematian seperti gempa, gunung meletus, banjir, badai dan sebagainya. 8. Membaca berita-berita tentang umat-umat masa lalu yang telah dibinasakan oleh maut. Semoga Allah Subhanahu wata'ala menutup akhir hayat kita dengan Husnul Khatimah dan menerima semua amal shalih kita, Amin. (Abu Hafshah Hanif) Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. (SUMBER: Buletin berjudul Kafaa bilmauti Waa'izha)

Pensucian Jiwa ( TAZKIYYAH AL-NAFS )

Tazkiyyah al Nafs berarti “Pensucian Jiwa”. Secara etimologi, kata “tazkiyat” berasal dari (isim mashdar) kata zakka, yg berarti pembersihan atau penyucian. Sedangkan kata “al-nafs” umumnya diartikan sebagai jiwa. Dasar rujukan pensucian jiwa antara lain adalah al Qur’an surat asy-Syams (91) : 7-10 : “Demi jiwa penyempurnaannya. Maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntung orang yg mensucikan jiwanya. Dan sungguh merugi orang yg mengotori jiwanya”. Istilah “zakkaha” dalam ayat itu bisa dipahami sebagai kata yg mempunyai konotasi makna tazkiyat al nafs. Padanan atau sinonim yg mirip dengan pengertian tazkiyat, adalah tathhir yg berasal dari kata thoharoh yg artinya membersihkan. Kata tathhir atau thoharoh konotasinya adalah membersihkan sesuatu yg bersifat materil atau jasmani yg bisa diketahui oleh indera indera manusia.misalnya membersihkan tangan dari kotoran,baik berupa najis maupun noda noda yg menempel pada jasmani manusia. Sedangkan kata tazkiyat konotasinya adalah membersihkan sesuatu bersifat immateril. Misalnya, membersihkan pikiran dari angan angan kotor, nafsu jahat dan sebagainya. Dalam hal ini al-Ghozali juga menggunakan kata tazkiyat untuk pensucian hal yg immateril. Tazkiyat al-nafs adalah proses pensucian jiwa manusia. Proses pensucian jiwa dalam kerangka tasawuf ini dapat dilakukan dengan melalui takholli dan tahalli. Tazkiyat al-nafs merupakan inti kegiatan bertasawuf. Dalam hal ini Sahl bin Adulloh al-Shufi berpendapat bahwa siapa saja yg pikirannya jernih, ia berada dalam keadaan kontemplatif. Kalangan sufi adalah orang orang yg senantiasa mensucikan hati dan jiwa. Perwujudannya adalah rasa butuh terhadap Tuhannya. Upaya melakukan penyempurnaan jiwa perlu dilakukan oleh setiap orang yg menginginkan ilmu ma’rifat. Sebab ilmu ma’rifat tidak dapat diterima oleh manusia yg jiwanya kotor. Ada lima hal yg menjadi penghalang bagi jiwa didalam menangkap hakikat yaitu : Pertama, jiwa yg belum sempurna. Kedua, jiwanya dikotori perbuatan perbuatan maksiat. Ketiga, menuruti keinginan badan. Keempat, penutup yg menghalangi masuknya hakikat ke dalam jiwa (taqlid). Kelima, tidak dapat berpikir logis. Dibutuhkan upaya pengembalian jiwa kepada kesempurnaannya untuk menghilangkan penghalang penghalang itu. Dalam konteks inilah, penyempurnaan jiwa dapat dilakukan tazkiyat al-nafs. Tazkiyat al-nafs dalam konsepsi tasawuf berdasarkan pada asumsi bahwa jiwa manusia ibarat cermin, sedangkan ilmu ibarat gambar gambar objek material. Dengan demikian kesucian jiwa adalah syarat bagi masuknya hakikat hakikat atau ilmu ma’rifat ke dalam jiwa, sementara jiwa yg kotor, misalnya dengan mengikuti hawa nafsu duniawi, akan membuat manusia terhijab dari Alloh. Pembicaraan konsep tazkiyat al-nafs ini, berawal dari asumsi yg erat antara ajaran Islam dengan jiwa manusia. Tazkiyat al-nafs merupakan salah satu unsur penting dalam Islam yg untuk itulah Nabi Muhammad dibangkitkan sebagaimana dijelaskan dalam al Quran Surat al-Jumuah ayat 2 yg artinya: “Dialah yg mengutus kepada ummat yg ummi seorang Rosul dari kalangan mereka, yg membacakan kepada mereka ayat ayat Nya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu berada dalam kesesatan yg nyata”. Dari tinjauan akhlak tasawuf al Ghozali memandang tazkiyat al nafs dan tahliyat al nafs dalam arti latihan mengosongkan jiwa dari akhlak tercela dan mengisinya dengan akhlak terpuji. Dari tinjauan ini, tazkiyat al nafs al Ghozali merupakan bagian dari methode tasawuf, khususnya dalam usaha pembinaan dan pembentukan jiwa yg berakhlak mulia. Dari sini maka tazkiyat al nafs berhubungan erat dengan soal akhlak dan kejiwaan yaitu sebagai pola pembentukan manusia yg berakhlak baik beriman dan bertaqwa keraf Alloh. Tazkiyat al nafs berhubungan erat dengan usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Dasar argumentasinya, bahwa Alloh tidak bisa didekati oleh org yg jiwanya tidak suci, karena Alloh adalah Tuhan Yang Maha Suci yg hanya berjiwa suci pula. Oleh karenanya tingkat kedekatan (qurb), pengenalan (ma’rifat) dan tingkat kecintaan manusia terhadap Nya sangat bergantung pada kesucian jiwanya. Jadi pensucian jiwa yg dimaksudkan al Ghozali adalah proses pensucian jiwa manusia dari kotoran kotoran baik kotoran secara lahir maupun batin. Proses ini dilakukan dengan upaya mensucikan jiwa manusia melalui terlebih dahulu menyucikan sifat sifat Alloh sehinggah jiwa manusia dipenuhi dengan keimanan dan ketauhidan yg semakin kuat dan suci dari Alloh. Pentingnya metode pensucian jiwa karena al Ghozali melihat bahwa pensucian jiwa merupakan inti dari kegiatan bertasawuf. Dalam hal ini ia mengutip pendapat Sahl bin Abdulloh al Shufi bahwa siapa yg jernih dari kotoran, pikirannya akan berada dalam keadaan kontemplatif, sehingga akan mendapat singgasana emas dan mutiara. Dalam hal ini al Ghozali melihat bahwa org sufi adalah org yg senantiasa berada dalam penjernihan dari kotoran kotoran hati dan jiwa. Perwujudannya adalah bentuk para butuh terhadap Tuhannya. Dengan melanggengkan fakir kepada Tuhan, akan menyingkirkan kotoran. Setiap nafsu yg bergerak dengan sifat sifatnya, akan berbenturan dengan bashiro yg bergerak pula, sehingga berlari menuju Rob-nya. Maka dengan penjernihan totalitas dirinya dan pemisahan terhadap kotoran jiwanya, sang sufi akan tegak berdiri dengan Robb-nya dalam kalbunya di atas jiwanya.
Tema Perjalanan. Diberdayakan oleh Blogger.